Volume 52, Number 3, 229-250, DOI: 10.1007/BF02862141

Medicinal plant ecology, knowledge and conservation in Kalimantan, Indonesia

Izefri Caniago and F. Siebert Stephen

View Related Documents

Abstract

This study documents the abundance, distribution and knowledge of medicinal plant species in a Ransa Dayak village and adjoining forest in West Kalimantan, Indonesia. Over 250 medicinal plant species from 165 genera and 75 families are utilized by the local healer. Late successional, primary and river bench forests contained the highest diversity of locally-utilized medicinal species and the greatest number of species restricted to a single forest type for which alternative species or remedies were unavailable. Epiphytes and trees restricted to primary forests are particularly important sources for plants used to treat unusual ailments. A 100% survey of village residents 15 years of age and older (N = 32) revealed that people older than 25 years of age, and older females in particular, possessed greater knowledge of medicinal plants and their uses than younger people and males. All residents, except the male healer, were more knowledgeable about medicinal plants found in early successional forests than those of primary forests. Commercial logging and the loss of traditional knowledge through acculturation pose twin challenges to the persistence of traditional medicinal plant use in this Ransa village and throughout much of Kalimantan.
Penelitian ini mengumpulkan informasi mengenai keberadaan, penyebaran dan pengetahuan tentang jenis tumbuhan obat di daerah perkampungan Daya’ Ransa dengan hutan sekitarnya di Kalimantan Barat, Indonesia. Lebih dari 250 spesies tumbuhan obat dari 165 genus dan 75 suku digunakan oleh dukun setempat. Hutan sekunder tua, hutan primer dan daerah hutan sepanjang pinggir sungai merupakan tipe hutan yang memiliki keanekaragaman dan jenis tumbuhan obat paling tinggi yang hanya tumbuh di tipe hutan tersebut serta tidak adanya jenis tumbuhan obat pengganti untuk mengobati penyakit yang sama di tipe hutan lain. Jenis epipit dan pohon yang ditemukan khusus di hutan primer mempunyai arti sangat penting bagi masyarakat karena digunakan untuk menogobati jenis penyakit yang tidak biasa. Dari survey 100% yang dilakukan terhadap penghuni desa yang usianya lebih dari 15 tahun (N = 32) diketahui bahwa penduduk yang berusia lebih dari 25 tahun, terutama perempuan berusia tua, mempunyai pengetahuan yang lebih banyak mengenai pemanfaatan tumbuhan obat dibandingkan dengan laki-laki dan perempuan yang lebih muda. Seluruh penduduk, kecuali sang dukun, lebih mengetahui pemanfaatan tumbuhan obat yang tumbuh di hutan sekunder muda dibandingkan dengan tumbuhan obat yang tumbuh di hutan primer. Kegiatan pembalakan hutan berskala besar (HPH) dan hilangnya pengetahuan tradisional lewat perubahan budaya adalah dua tantangan yang dihadapi untuk dapat mempertahankan pemakaian dan melestarikan tumbuhan obat di kampung ini khususnya dan di seluruh Kalimantan umumnya.

Key Words:  medicinal plants - abundance and distribution - secondary forest - primary forest - Ransa Dayak - acculturation - Indonesia

Fulltext Preview

Image of the first page of the fulltext document