This study documents the abundance, distribution and knowledge of medicinal plant species in a Ransa Dayak village and adjoining
forest in West Kalimantan, Indonesia. Over 250 medicinal plant species from 165 genera and 75 families are utilized by the
local healer. Late successional, primary and river bench forests contained the highest diversity of locally-utilized medicinal
species and the greatest number of species restricted to a single forest type for which alternative species or remedies were
unavailable. Epiphytes and trees restricted to primary forests are particularly important sources for plants used to treat
unusual ailments. A 100% survey of village residents 15 years of age and older (N = 32) revealed that people older than 25
years of age, and older females in particular, possessed greater knowledge of medicinal plants and their uses than younger
people and males. All residents, except the male healer, were more knowledgeable about medicinal plants found in early successional
forests than those of primary forests. Commercial logging and the loss of traditional knowledge through acculturation pose
twin challenges to the persistence of traditional medicinal plant use in this Ransa village and throughout much of Kalimantan.
Penelitian ini mengumpulkan informasi mengenai keberadaan, penyebaran dan pengetahuan tentang jenis tumbuhan obat di daerah
perkampungan Daya’ Ransa dengan hutan sekitarnya di Kalimantan Barat, Indonesia. Lebih dari 250 spesies tumbuhan obat dari
165 genus dan 75 suku digunakan oleh dukun setempat. Hutan sekunder tua, hutan primer dan daerah hutan sepanjang pinggir sungai
merupakan tipe hutan yang memiliki keanekaragaman dan jenis tumbuhan obat paling tinggi yang hanya tumbuh di tipe hutan tersebut
serta tidak adanya jenis tumbuhan obat pengganti untuk mengobati penyakit yang sama di tipe hutan lain. Jenis epipit dan pohon
yang ditemukan khusus di hutan primer mempunyai arti sangat penting bagi masyarakat karena digunakan untuk menogobati jenis
penyakit yang tidak biasa. Dari survey 100% yang dilakukan terhadap penghuni desa yang usianya lebih dari 15 tahun (N = 32)
diketahui bahwa penduduk yang berusia lebih dari 25 tahun, terutama perempuan berusia tua, mempunyai pengetahuan yang lebih
banyak mengenai pemanfaatan tumbuhan obat dibandingkan dengan laki-laki dan perempuan yang lebih muda. Seluruh penduduk, kecuali
sang dukun, lebih mengetahui pemanfaatan tumbuhan obat yang tumbuh di hutan sekunder muda dibandingkan dengan tumbuhan obat
yang tumbuh di hutan primer. Kegiatan pembalakan hutan berskala besar (HPH) dan hilangnya pengetahuan tradisional lewat perubahan
budaya adalah dua tantangan yang dihadapi untuk dapat mempertahankan pemakaian dan melestarikan tumbuhan obat di kampung ini
khususnya dan di seluruh Kalimantan umumnya.
Key Words: medicinal plants - abundance and distribution - secondary forest - primary forest - Ransa Dayak - acculturation - Indonesia